Mengenang Sosok Dr.H. Muhtadin Dg. H. Mustafa, Penyayang Keluarga dan Petarung Sejati

Palu,Jaripedenews.com- Banyak yang tidak percaya saat mendengar kabar wafatnya Dr H. Muhtadin Dg. Mustafa. Dosen UIN Datokarama Palu itu menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Undata Palu pada hari selasa tanggal 10 januari 2023.

Seluruh keluarga, sahabat hingga para kadernya merasa kehilangan atas kepergian almarhum. Termasuk sahabat dekatnya sekaligus kader pergerakan, sahabat Dr Sahran Raden, anggota KPU Provinsi Sulawesi Tengah.

Bagi Sahran, sosok almarhum tidak hanya sebagai kakak, namun lebih dari itu, almarhum adalah sosok guru yang menjadi teladan dan inspirasi baginya.

Almarhum dimata Sahran adalah pribadi yang sempurna, penyayang keluarga, sederhana dan petarung sejati. Hal itu dikemukakan Dr Sahran saat memberikan testimoni pada malam ketiga pembacaan doa tahlil dikediaman almarhum di perumahan agatis, boyaoge indah, kecamatan Tatanga, kota Palu. Jumat malam, (13/1).

“Kami bukan berasal dari keturunan yang sama, namun secara non biologis berasal dari kesatuan¬†geneologis. Berasal dari kelompok sosial dan idiologi yang sama. Islam Ahlusunnah Waljamaah. Pergerakan Mahasiawa Islam Indonesia, yang terbentuk atas dasar persamaan idiologi dan kelompok organisasi yang sama, maka terbentuklah keluarga besar yang kemudian berkembang menjadi kerabat,”ungkapnya.

Almarhum, lanjut Sahran, juga dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dan penyayang keluarga istri dan anak-anaknya, tanpa membeda-bedakannya. Peduli terhadap sahabat sahabatnya, senang berbagi, tidak pernah menguntungkan dirinya sendiri dan saling mempromosikan.

Almarhum adalah produk dari kaderisasi emas Alkhairaat dan Nahdlatul Ulama. pantaslah jika dia banyak mencetak kader militan. Almarhum menjadi sumber mata air kaderisasi para pemimpin muda pergerakan yang siap menjadi pemimpin masa depan.

Pria kelahiran Waisakai, 25 September 1970 itu juga dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana saat berpunya maupun saat tidak berpunya serta pekerja keras dan pencinta ilmu.

“Suatu saat, sekitar tahun 2016, saya iseng bertanya, “ka Muhtadin kenapa tidak ganti mobil baru,”karena saya tau mobil avanza kesayangannya itu dibeli tahun 2007. Jawabannya singkat, namun cukup mengagetkan saya, “Ran, mobil ini, sebagai tanda kasih sayang saya pada mendiang istri saya, sampai kapanpun mobil ini tidak akan saya jual.” Ternyata benar, almarhum tidak pernah mengganti mobilnya,”kata Sahran.

Menurut Sahran, almarhum bisa saja membeli mobil baru dengan sederet jabatan yang pernah disandangnya. Namun karena kecintaanya pada mendiang istri dan anak-anaknya, almarhum memilih merawat mobilnya itu dengan baik. Itulah yang disebut kesederhanaan.

Sahran mengaku, ia banyak mengambil makna dari kesederhanaan almarhum selama dalam perjalanan hidup bersama almarhum.

Dimata Sahran, sosok almarhum memiliki pendirian yang teguh dan komitmen yang kuat serta motivator handal bagi kader kadernya.Baginya, kader wajib bergerak dan berinovasi. Dalam memberikan motivasi dan membakar semangat kadernya, dengan suara lantang dia mengucapkan kalimat “takbirkan tiga kali sebagai tanda kematiannya,”kata Sahran menirukan ucapan almarhum.

Almarhum juga dikenal sebagai sosok pejuang dan petarung sejati. “Maju, patah kalau mo patah, pandang enteng” adalah jargon beliau untuk memotivasi para kadernya.

Menurut Dr Sahran, secara semiotik linguistik, pandang enteng itu bermakna merasa ringan. Merasa tersubordinasi atas tekanan dari orang lain sebagai penanda perlawanan, merasa kecil tanpa beban. Bukan hanya terhadap dirinya, melainkan terhadap kelompoknya.

Terkait dengan hal ini, Sahran merasakan sendiri saat almarhum menjadi ketua tim seleksi penerimaan calon anggota Komisi Pemilihan Umum provinsi Sulawesi Tengah. Almarhum benar-benar sosok petarung sejati, membahagiakan dirinya untuk bisa menjadi anggota KPU provinsi Sulawesi Tengah selama dua periode.

“Selama 10 tahun menjadi penyelenggara pemilu untuk daerah dan bangsa, semuanya saya dedikasikan untuk almarhum. Seluruh kebaikan-kebaikan yang saya lakukan semuanya saya dedikasikan untuk almarhum. Saya mengambil i’tibar dari perjalanan hidup almarhum,”tutup Sahran Raden

Pos terkait