Masalah itu Realitas Obyektif, sedangkan Penderitaan itu Bersifat Subjektif

  • Whatsapp

Oleh : Alamsyah Palenga
(Ketua PW GP ANSOR Sulawesi Tengah)

Masalah itu realitas obyektif, sedangkan penderitaan itu bersifat subjektif.

Contoh:
Misalnya saya dan Bill Gates kehilangan mobil. Kasusnya sama, sama-sama kehilangan mobil. “Kehilangan mobil” adalah masalahnya. Sifatnya obyektif.

Sedangkan penderitaannya pasti beda. Pasti saya jauh lebih menderita dibanding dia. Bill Gates bisa dengan segera membeli mobil baru atau bahkan dia tidak risau kehilangan satu mobil, karena untuk membeli kapal pesiar atau sebuah pulaupun, mungkin dia sanggup. Wajar, dia salah satu orang terkaya dunia.

Sedangkan saya, butuh bertahun-tahun kumpulin duit buat dapatkan satu mobil. Penderitaan yg saya rasakan pasti jauh lebih berat. Orang Palu bilang “naje kita….” itu kalo sudah lunas, nah kalo belum lunas?

Demikian juga lockdown, social distancing atau karantina mandiri atau apapun namanya. Ia pasti memberikan dampak yang tidak sama pada setiap orang.

Dua hari lalu saya ke pasar inpres Manonda Palu untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Saya melihat betapa pandemi Covid-19 tidak begitu terasa di sana. Penjual dengan santainya menjajakan jualannya tanpa masker, tanpa fasilitas cuci tangan apalagi hand sanitizer.

Apakah mereka, para penjual itu tidak takut? Tentu mereka takut. Siapa sih yang tau akan bahaya yang mengintai lalu dia tidak berusaha menghindari bahaya itu? Lalu mengapa mereka nampak santai? Jawabnya, itu disebabkan karena mereka tidak tau. Sebagian besar mereka tidak membaca berita, tv atau tdk bermedsos, dan sebagian lain lagi dari mereka yang tau soal pandemi ini, tidak memiliki cukup pengetahuan, tidak memiliki cukup akses untuk menyiapkan kesiapsiagaan bagi diri dan keluarganya.

Boro – boro mau siapkan APD dasar seperti yg disebutkan di atas. Mereka malah harus “kejar setoran” untuk makan anak dan keluarganya masing – masing di rumah.

Kalau mau lihat mereka, turunlah ke pasar. Buruh harian, tukang becak, ojek & ojol, penjaja keliling, kuli angkut dan masih banyak lagi dari mereka.

Tepat di kelompok rentan ini, pemerintah perlu mempersiapkan segala sesuatunya, “lebih dari” kelompok lain yang lebih siap.

Di saat kita bisa berselfie, nonton tv, bahkan bahkan video call di rumah, mereka harus berada di luar tanpa pengetahuan dan kemampuan untuk menyelamatkan diri dan keluarga mereka.

PEMERINTAH & KITA SEMUA HARUS HADIR.

  • Whatsapp

Pos terkait