Jurnalisme Ketakutan

  • Whatsapp
ABDULLAH KHUSAIRI

OLEH: ABDULLAH KHUSAIRI
Penulis, Dosen di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang

Hampir tidak ada harapan, ketakutan telah mewabah ke seluruh penjuru. Virus Corona itu datang dari Wuhan tiba di kota yang kita cintai. Betapa gagap para pengambil kebijakan di setiap level membangun harapan. Mereka juga dalam ketakutan.

Kabar pertama tentang wabah itu beberapa bulan silam. Wabah itu melebar ke seluruh kota di dunia. Informasi wabah itu disampaikan seperti merayakan ketakutan. Begitulah media massa dan media sosial bahu membahu mengabarkan sebuah wabah. Hampir tak ada jeda, hingga menimbulkan ketakutan.

Wabah itu memang menakutkan tetapi bukankah ada selalu ada alasan untuk mengambarkan sesuatu dengan membahagiakan? Bisa saja, sebab begitu banyak berita yang lebih menakutkan dari itu di sekitar kita tetapi tidak begitu menarik. Misalnya, kecelakaan lalu lintas yang saban hari terjadi di jalan raya, baca saja angkanya, bisa lebih besar dari kematian atas wabah tersebut.

Kang Yudi Latif menulis, kebenaran dan kesejatian itu seringkali seperti bintang yang tak bisa dilihat kecuali di gelap malam. Dalam terang kehidupan normal, manusia sulit mengenali kebenaran hakiki. Kesejatian tersamar ornamen pernak-pernik penampilan.

“Saat zaman kelam datang, barulah kita kenali mana yang benar sejati, mana yang palsu manipulasi. Bila kita kurang yakin watak asli seseorang atau suatu bangsa, tunggulah hingga gelap menyergap: di sana bisa kita kenali watak sesungguhnya,” tulis Kang Yudi Latif, (Hitam-Putih Korona, Harian Kompas, Kamis, 19 Maret 2020).

Setelah membaca tulisan itu, saya teringat sebuah frasa yang lain. Karen Amstrong menulis tentang ketakutan dari serangan mematikan dengan menggunakan sebuah cutter.

“Tatanan dunia baru dihadapkan fenomena yang mengerikan. Pasca serangan teror, yang dikenal dengan Peristiwa 9/11, yang merobohkan simbol peradaban dunia, World Trade Center (WTC) dan Pentagon, jutaan mata dunia disadarkan sebuah persoalan yang belum terselesaikan; Fundamentalisme. Sebelumnya, hanya sedikit yang fokus terhadap fundamentalisme dalam membangun keamanan dan kekuatan negara-bangsa. Khususnya Amerika Serikat (AS), sebagai negara adikuasa yang menyiapkan perangkat teknologi keamanan tingkat tinggi ternyata harus menerima kenyataan, diserang oleh sekelompok orang, bukan dengan perangkat canggih tapi dengan menyiapkan cutter di saku mereka, yang disebut terorisme,” tulis Karen Amstrong, The Battle for God, Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam, (New York: Knopf/HarperCollins, 2000).

Hanya satu cutter, dunia hampir terban. Hanya satu virus, nation-state berderak nyaris patah. Hampir tak lagi punya harapan untuk kembali tegak dan angkuh menguasai jagat ini. Kemana harapan itu? Siapa yang telah mengeruk untuk dari ketakutan? Siapa yang telah membeli banyak alat-alat perang? Sedangkan musuh cukup menggunakan cutter dan virus. Perang melawannya hanya membutuhkan suatu sikap sempurna untuk bersahabat dengan alam, berdamai dengan sesama, hidup bersih seperti diajarkan agama-agama.

Manusia mungkin saja sudah kelewatan rakus. Termasuk rakus memberitakan sesuatu berlebihan. Banjir informasi membuat tersungkurnya nilai rupiah dan nilai moral. Kebebasan berinformasi sebenarnya bukan berarti kebablasan yang membuat terguncangnya tiang-tiang harapan. Kini tiang-tiang itu seperti menuju rebah.

Tetapi kita tak boleh kehilangan harapan, serapuh apapun jiwa kita diguncang informasi-informasi yang tentu saja punya kepentingan lain orang menyampaikannya. Bersebab kebohongan sering kali berlindung di balik fakta-fakta, kita harus terus tabayyun, verifikasi, berkali-kali lipat agar ketakutan tidak mudah tiba tanpa alasan yang kuat. Adalah kematian, pada sikap teologis kita, tiada lain sudah tak lagi urusan nalar. Urusannya keyakinan atas panggilan ilahiyah bagi setiap orang yang akan tiba pada masanya.

Terakhir, kesadaran teologis adalah sandaran paling kokoh di tengah informasi menakutkan oleh orang-orang yang tak peduli publik mengalaminya. Pada sisi moral-etik, walau ada kebenaran pada suatu informasi itu, kadang-kadang ada yang tidak mungkin disampaikan. Kini, semua itu telanjang. Sampaikan saja semua, apapun resikonya bagi publik. Sebab akan tiba produksi antivirus yang harus dibeli, harus dipakai oleh publik. Mari kita nikmati kembali hari-hari dengan jurnalisme ketakutan itu tanpa perlu lagi takut. Sebab informasi adalah industri, virus itu juga dijadikan industri, sedangkan sebuah wabah memang datang karena qudrah iradah ilahiyah. Semoga kita dijauhkan wabah penyakit dan teruslah berdoa. Amin. [***]

  • Whatsapp

Pos terkait