Dari Tradisionalisme Hingga Neo Modernisme Islam ( Menyingkap Corak Pemikiran Gerakan Pemuda Ansor di Indonesia )

  • Whatsapp
Sahran Raden (Ketua PW Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Tengah 2010-2014 )

Oleh : Sahran Raden, ( Ketua PW Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Tengah, 2010-2014 )

 

Tulisan ini ingin merefleksikan hari lahir Gerakan Pemuda Ansor yang ke 87 Tahun. Gerakan Pemuda Ansor mengalami dinamika pada setiap zaman kebangsaan terutama terkait dengan gerakan pemikiran  di Indonesia. Dinamika itu sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang, Masa Kemerdekaan, masa Orde lama, Masa Orde baru, masa reformasi yang ditandai era transisi demokrasi hingga pasca reformasi pada konsolidasi dan pemantapan demokrasi di Indonesia. Sejarah panjang dinamika keansoran itu turut mewarnai peta pemikiran Islam di Indonesia.

 

Kelahiran Ansor Banser

87 Tahun yang lalu, 24 April 1934, Gerakan Pemuda Ansor Lahir dari  rahim para kyai Nahdlatul Ulama ( NU ) Diantaranya KH Wahab Hasbullah dan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Mungkin tidak begitu banyak yang kenal kelahiran Gerakan Pemuda Ansor terlahir dari zaman heroiknya penjajahan di Tanah Air oleh Belanda  dan berkecamuknya revivalisme Islam di Timur Tengah terutama di Arab Saudi.

GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab, “ulama besar” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian nama Ansor dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut.

Selanjutnya melalui Gerakan Kepanduan di masa itu lahir Barisan Ansor Serba Guna ( Banser ) untuk melawan penjajah dan menjaga para kyai dan ulama di masa perang. Sampai dengan kalimat Takbir ” Allahu Akbar” dan kalimat Tauhid  La Ilaha Illahu Muhammad Rasulullah dua kalimat syahadat menggema memekik perjuangan mengusir Inggris dan Sekutunya pada tanggal 10 Nopember di Surabaya. Yang dikenal dengan “Jembatan Merah berdarah” banyak Ansor – Banser yang wafat di ujung senjata bedil penjajah demi mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru merdeka.  Hari 10 Nopember selanjutnya dikenal dengan Hari Pahlawan. Perjuangan ini atas perintah Kyai Hasyim Asy’ari yang dikenal dengan “Resolusi Jihad” membela tanah air dan bangsa dari penjajahan dan imperialisme Inggris dan sekutunya.  Perjuangan Ansor selajutnya berlanjut pada era Orde Lama di masa Soekarno. Melawan dan menumpas PKI dan semua gerakan yang merongrong negara kesatuan RI di tahun 1965.

Akan tetapi, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol.

Warisan dan investasi kemerdekaan serta  kebangsaan yang diletakan  oleh para kyai dan pendahulu Ansor dan Banser,  pada generasi ini semangatnya terus membara dan tetap di jaga dengan baik.

 

Problem Kebangsaan

Banyak problem kebangsaan dan keagamaan dimana Ansor bergeliat menjadi bagian dari solusi kebangsaan. bahkan pada hal hal yang genting terkait dengan pengrongrongan terhafap Pancasila dan NKRI. Ansor terdepan bahkan pasang badan terhadap gangguan idiologi pancasila.

Paling tidak problem yang  dihadapi bangsa Indonesia saat ini ada empatyakni.; Pertama, Problem globalisasi yang dalam konteks keislaman telah menimbulkan benturan peradaban. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order(1996). Menurut Huntington, dengan berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya ideologi komunisme, wilayah konflik meluas melewati fase Barat, dan yang mewarnainya adalah hubungan antara peradaban Barat dan non-Barat serta antarperadaban non-Barat itu sendiri. Huntington mengelompokkan negara-negara bukan atas dasar sistem politik ekonomi, tetapi lebih berdasarkan budaya dan peradaban. Ia mengidentifikasi sembilan peradaban kontemporer, yaitu, peradaban Barat, Cina, Jepang, Amerika Latin, Afrika, Hindu, Budha, Islam, dan Kristen Ortodoks. Benturan yang paling keras menurut Huntington akan terjadi antara kebudayaan Kristen Barat dengan kebudayaan Islam.Tesis tersebut secara tidak langsung memperkuat asumsi sebagian besar ilmuwan Barat yang melihat Islam sebagai aggression and hostility (agresi dan ancaman). Pendek kata, bagaimana Barat menciptakan stereotipe-stereotipe simplistis yang menunjukkan wajah the rage of Islam.Latar belakang pemikiran Huntington di awali dari satu hipotesis bahwa sumber fundamental dari konflik dalam dunia baru – yang dimaksud adalah dunia pasca perang dingin – pada dasarnya tidak lagi ideologi atau ekonomi, melainkan budaya. Boleh dikatakan ini menjad bagian problem kebangsaan yang dihadapi Indonesia.

Kedua, bagaimana menjaga kebhinekaan dan keutuhan NKRI yang masih selalu ada yang menodai. Indonesia merupakan bangsa yang terkenal dengan kemajemukannya yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, budaya dan bahasa yang hidup bersama dalam Negara Kesatuan Negara Republik (NKRI) yang dibungkus dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. Menyatunya keanekaragaman dalam wadah NKRI saat ini bukanlah sesuatu yang mudah dan datang begitu saja tanpa melalui pemikiran dan perjuangan para pendiri Bangsa Indonesia. Disinilah tantagan tersendiri bagi Indonesia untuk mengelola kemajemukan dan pluralisme kebangsaan.

Ketiga. bagaimana mengatasi kemiskinan yang masih dirasakan oleh jutaan rakyat Indonesia.  Persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019.  Jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang terhadap September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang terhadap Maret 2019.

Keempat, bagaimana mencegah dan menindak praktik korupsi.  Berdasarkan riset Transparency International Indonesia (TII) merilis indeks persepsi korupsi (IPK) atau corruption perception index (CPI) Indonesia tahun 2020, mencaai  skor indeks persepsi korupsi Indonesia  berada di angka 37 pada skala 0-100. Adapun skor 0 sangat korup dan skor 100 sangat bersih. CPI Indonesia tahun 2020,  Indonesia  berada pada skor 37 dengan ranking 102 dan skor ini turun 3 poin dari tahun 2019. Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, IPK Indonesia berada di peringkat lima di bawah Singapura (85), Brunei Darussalam (60), Malaysia (51), dan Timor Leste (40).

Korupsi merupakan masalah struktural pemerintahan, militer, partai politik, aparat penegak hukum dan sektor swasta. Secara kultural korupsi adalah kezaliman dalam kultur masyarakat jika kemudian korupsi menjadi tradisi atau kebiasaan suatu masyarakat. Korupsi sama dengan  fasad  perbuatan yang merusak tatanan kehidupan, pelakunya melakukan jinayah qubra. Dalam konteks kenabian, bahwa kaum quraish menolak hadirnya Rasulullah Saw bukan hanya sekedar masaah teologis tetapi kehawatiran akan pudarnya kekuasaan  ekonomi quraish  yang dipenuhi praktek KKN. Sementara perjuangan Nabi Saw sarat dengan prinsip keadilan, transparansi dan egaliter.

 

Gerakan Pemuda Ansor diantara  Post Tradisionalime dan Neo Modernisme Islam

Dalam diskursus keislaman di Indonesia, selama ini terdapat pandangan dikotomi antara Islam Tradisionalis dan Islam Modernis. Dikotomi itu tidak saja dilihat dari corak dan paradigma berfikir tetapi juga pada basis komunitas Islam. Yaitu Islam perkotaan diwakili oleh kelompok modernis dan Islam pedesaan yang diwakili oleh Islam tradisionalis. Sebut saja NU mewakili kelompok Islam tradisonal dan Muhammadiyah mewakili kelompok Islam modernis.

Tradisionalisme merupakan salah satu karakter atau corak pemikiran yang ada dalam sejarah Islam. Corak pemikiran tradisionalisme dalam sejarah Islam telah menempatkan diri sebagai karakter mayoritas umat Islam. Namun dalam perkembangannya, tradisionalisme telah mengalami perubahan walau tidak terlalu kritis. Masyarakat Indonesia pada umumnya didominasi oleh corak berfikir tradisional. Organisasi seperti NU, Perti dan al-Washliyah merupakan bukti bahwa mayoritas masyarakat Indonesia menganut paham tradisional. Tradisional bukanlah berarti terbelakang atau kolot, tapi merupakan sebuah pola berfikir yang memiliki karakter tersendiri. Tradisonalisme Islam  dalam konteks masyarakat keindonesiaan,  merujuk kepada sebuah pendirian agama yang memegang sifat pada upacara dan pemahaman lokal yang berdiri secara tradisional. Muslim Tradisionalis menyebut diri mereka sendiri sebagai ahlusunnah wal jamaah atau aswaja.Traditionalisme sering kali kontras dengan modernisme, yang terinspirasi oleh modernitas dan rasionalitas. Tradisionalisme telah menjadi orientasi agama Muslim paling diikuti dalam sejarah Muslim Indonesia kontemporer. Keberadaan tradisionalisme banyak di pengaruhi organisasi sosio-agama nahdlatul Ulama organisasi Muslim terbesar di Indonesia.Tradisionalisme juga merupakan unsur kritikal dalam gerakan intelektual Muslim yang dikenal sebagai Islam nusantara.

Perkembangan pemikiran dalam Islam telah menimbulkan berbagai corak yang akhirnya menjadi sistem pergerakan pemikiran. Corak tersebut ada yang mengambil bentuk purifikasi(pemurnian), modernisasi, neo-modernisasi dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk pergerakan pemikiran ini merupakan reaksi terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi. Satu pergerakan pemikiran bisa saja sebagai reaksi terhadap gerakan pemikiran sebelumnya, seperti munculnya modernisme sebagai reaksi terhadap pola pikir gerakan tradisionalisme,

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata “tradisi” diartikan dengan adat, kepercayaan, kebiasaan, ajaran dan sebagainya yang turun temurun dari nenek moyang. Dalam bahasa Arab kata tradisi biasanya diidentikkan dengan kata sunnah yang secara harfiah berarti jalan, tabi’at, perikehidupan. Sunnah dalam pengertian seperti ini sejalan dengan pengertian sunnah yang terdapat dalam hadits Nabi yang artinya: “Barang siapa yang mengadakan suatu kebiasaan yang baik, maka bagi orang itu akan mendapat pahala, dan pahala bagi orang yang melaksanakan kebiasaan tersebut.

Tradisionalisme merupakan ajaran filsafat dan teologi yang menolak adanya kesanggupan manusia menemukan kebenaran sendiri. Mereka berpendapat bahwa semua kebenaran harus diturunkan melalui perwahyuan Ilahi. Tradisional-isme pernah menjadi reaksi terhadap pandangan rasionalisme dan materialisme abad ke-19 di Barat, yang memutlakkan otonomi akal-budi, dengan usaha-usaha untuk kembali kepada kondisi-kondisi tradisionalis keagamaan, kesusilaan, sosial, dan politik.Jika diuraikan berdasarkan kerangka ideologis, terdapat paling tidak empat kategorisasi umat Islam; tradisionalis-konservatif, reformis-modernis, radikal-puritan, dan nasionalis-sekuler. Modernisme islam juga telah menghancurkan islam indonesia. Karena kehadirannyamemecah belah islam yang telah kuat mengakar kuat dan dinamis dalam setiap tradisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Ada segregasi baru berdasarkan ideologi modernisme, yakniislam yang dianggap murni atau asli dan ada islam yang dianggap sesat atau menyimpang. Nilai-nilai dan tradisi islam yang sudah ratusan tahun hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia di goncang dengan ideologi-ideologi baru semenak munculnya Moh Abduh dari Pakstan dengan term baru yakni Modernism.  Jika kita meneropong pengelompokan pemikiran Islam oleh Fazlur Rahman, maka dapat dikelompokan menjadi pertama, gerakan revivalis diakhir abad ke 18 dan awal abad ke 19. Yaitu gerakan wahabiayah di Arab, Sanusiyah di Afrika Utara, dan Fulaniyah di Afrika Barat.  Kedua, gerakan modernis yang dipelopori oleh Jamaluddin al Afgani dan Muhammad Abduh di Timur Tengah serta Sayyid Ahmad Khan di India. Ketiga, Neo Revivalis dimana Abu al A’la al Maududi beserta kelompok Jamaah Islamiyah di Pakistan menjadi  contonya. Serta keempat, Neo modernisme dimana Fazrur Rahman menjadi tokohnya yang merupakan gerakan pembaharuan yang bersifat sintesis progresif dengan rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik. Selajutnya Fazlur Rahman menganggap bahwa neo modernisme merupaka prasarat utama bagi munculnya renaissance Islam.

Berdasarkan kategori diatas, Greeg Barton memasukan Gusdur dalam pengelompokan neo medernisme karena dinilai menggabungkan semangat pemikiran modernisme dan tradisi klasik yang dimilikinya. Hal inilah yang mengilhami terhadap gerakan pemikiran dikalangan anak muda NU termasuk Gerakan Pemuda Ansor.  Dalam aspek geneologis pemikiran dan pemahaman keagamaan, Gerakan Pemuda Ansor lebih menekankan pada keberlanjutan tradisi pemikiran ulama klasik dipadukan dengan tradisi lokal  sesuai dengan tuntutan realitas sosialnya. Tradisi NU biasanya mempunyai resistensi yang kuat terhadap gerakan modernis yang selalu menyeruhkan purufikasi ajaran Islam dari tradisi lokal dan berijtihad dengan mengacu langsung kepada Alqur’an dan Hadits. Basis Ansor yang berada di pedesaan dan pesantren lebih menekankan pada penguasaan khasanah tradisi islam klasik. Pada aspek corak pemikiran dan gerakan keislaman, Gerakan Pemuda Ansor ketika berhadapan dengan persoalan negara dan kebangsaan, selalu menampatkan Islam sebagai subkultur ditengah kultur kebangsaan. Itulah kemudian Gerakan Pemuda Ansor menghindari menempatkan simbol dan formalisme Islam  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengutip kalimat Yaqut Cholil Qaumas atau Gus Yaqut, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor dan Juga Menteri Agama RI, bahwa  Agama dalam hal ini harus  menjadi inspirasi dan bukan aspirasi.Agama dalam konteks ini sebagai nilai yang menjadi keteladanan. Gus Yaqut menginginkan agar agama tak lagi dijadikan alat politik kelompok tertentu untuk menentang pemerintah ataupun merebut kekuasaan. Tekad itu kembali dilontarkan Gus Qut seusai serah terima jabatan dari pendahulunya, Fachrul Razi, kemarin. Ia menegaskan kembali keinginannya untuk menjadikan agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi. Agama sebagai aspirasi maknanya sama saja dengan menjadikan agama sebagai alat politik. Agama dijadikan kedok untuk menentang pemerintah atau merebut kekuasaan.

Tugas Kementerian Agama sesungguhnya tidak berubah sejak awal pendiriannya hingga kini. Kementerian itu ialah kepanjangan tangan negara dalam melaksanakan amanat konstitusi. Konstitusi mengamanatkan agar negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Tantangan terberat bagi negara saat ini ialah munculnya fenomena radikalisme dan intoleransi. Agama sering dijadikan kendaraan untuk memenuhi syahwat politik. Tempat ibadah malah dipakai untuk kampanye atau menyampaikan aspirasi politik.

 

Paradigma Gerakan Pemuda Ansor

Gerakan Pemuda Ansor dalam memahami gerakan keislaman di Indonesia tentu berdasarkan pada Islam ahlusunnah waljamah sebagaimana sumbernya KH.Hasyim Asy‟ari dengan Nahdlatul Ulama (NU 1926) yang pengaruhnya sangat besar dengan banyak didukung kiai-kiai (Ulama‟). Walaupun dengan NU Tajdid bersikap terbuka terhadap modernisasi namun tetap merawat baik tradisi. Karena ulama NU berpegang kepada Fiqh dengan jargonnya yang terkenal yaitu, Memelihara yang lama yang masih relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan.

Disamping itu, K.H. Mahfudz Shiddiq merupakan simbol modernitas di kalangan NU dan Ansor. Di masa mudanya, meski sudah dikenal sebagai kiai, ia tak canggung tampil di depan umum tanpa kopiah. Bahkan, dialah tokoh NU yang pertama kali berani tampil mengenakan dasi. Kala itu, mengenakan dasi masih diharamkan, karena termasuk tasyabuh (menyerupai) kebiasaan kaum penjajah Belanda. Toh, ia mampu berargumentasi di hadapan para kiai.

Pemikiran dan Internal Organisasi NU-Ansor  yang selama ini dianggap sebagai organisasi tradisional dengan basis pesantren justru memperlihatkan gairah progresivitas berpikir, dibandingkan dengan organisasi modern yang malah tampak stagnan dan resisten. Kitab kuning yang telah ditulis ulama berabad-abad lalu dan dijadikan salah satu referensi utama nahdhiyin ternyata justru membuka wawasan yang membentangluas dalam mencermati perubahan sosial. Pemahaman agama bergerak tidak lagi secara tekstualis, tetapi kontekstual. Tentunya ini perlu dipandang sebagai kemajuan di dalam beransor. Kemajuan peradaban selalu lahir dalam suasana kebebasan pikir.

Ansor memiiki visi besar dalam dinamika keislaman dan kebangsaan  di Indonesia. Visi besar itu yakni  revitalisasi nilai dan tradisi Ansor sebagai organisasi beraliran Islam Ahlussunah wal jamaah, pembenahan sistem pengkaderan, pemberdayaan potensi Ansor serta membangun moderasi beragama di Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Nusron wahid, Ansor menghidupkan kembali tradisi yang kini mulai ditinggalkan organisasi itu yakni majelis zikir, sholawat, dan tahlil.Program pengkaderan, diarahkan tidak hanya untuk memperkuat Ansor, namun juga menyiapkan kader pemimpin NU di masa depan. Ansor harus mampu menghasilkan pemimpin NU di masa depan.  Nusron,  juga  menyiapkan ulama-ulama muda yang diproyeksikan sebagai calon pengurus jajaran syuriah di struktur NU di daerah masing-masing. Pemberdayaan warga Ansor akan dilakukan di semua bidang, terutama di bidang ekonomi dan pendidikan.

Kepemimpinan ini selajutnya dilanjutkan oleh Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut yang  resmi ditetapkan sebagai ketua umum GP Ansor yang baru periode 2015-2020 menggantikan Nusron Wahid. Gus Yaqut,  dipilih secara aklamasi dalam Kongres GP Ansor XV di Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman, Yogyakarta, Jumat pada Jumat 27 Nopember 2016.Pada Masa Gus Yaqut, Ansor berkembang pesat. kaderisasi tumbuh subur. Ansor disiapkan  untk menjaga pilar kebangsaan yakni UUD 1945,  pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan  keutuhan NKRI.

Dalam konteks keragamaan dan kebangsaan didasarkan pada pemahaman Islamahlusunna waljamaah. sikap kemasyarakatan dan kebangsaan Aswaja, diantaranya yakni : pertama,   tawasuth (moderat) ini, sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak terhadap hal-hal yang sifatnya ekstrim. Kedua,  Tasamuh, sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Ketiga,  Tawazun (seimbang), sebuah keseimbangan sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia memperhitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang dan proporsional. Keempat,  Amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran.

Gerakan Pemuda Ansor yang  menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah, sebagai manhaj atau  pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu untuk mempertegas ke-identitasan-nya erakan Pemuda Ansor dalam membangun gerakan Keislaman dan kebangsaan menadi fikrah Nahdliyah sebagai: Kerangka berpikir yang didasarkan pada ajaran ahlussunnah wal-jama’ah untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka ishlah al-ummah (perbaikan umat).

Apabila dijabarkan secara luas, maka fikrah Nahdliyah memberikan penjelasan bahwa dasar-dasar faham keagamaan NU bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas dan menggunakan jalan pendekatan bermadzhab yang dipelopori ole salah satu dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali di bidang fiqih dan NU mengikuti pendirian bahwa Islam adalah agama fitri, bersifat menyempurnakan dan tidak menghapus nilai luhur yang sudah ada. Konskuensi logis dari penggunaan dasar faham keagamaan ini kemudian menuntut pola pikir yang khas bagi NU dalam merespon setiap persoalan, baik yang berkenaan dengan persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan.

 

  • Whatsapp

Pos terkait